UN dan SNMPTN tinggal menghitung hari. Pinsil, buku catatan, buku paket
dan segala jenis buku serta kumpulan soal-soal UN dan SNMPTN mendadak memikat
hatiku dan selalu ku ajak setiap harinya untuk menemani hari-hariku.
“Hoaaaaaaaaaaaaaaaaaaamh.” Aku menguap “Maafin ya buku, aku lebih
memilih bantal daripada engkau.” Rasa malaspun menghampiriku. Ku rebahkan
tubuhku diantara lautan buku-buku yang terhampar luas di lantai kamarku. Selagi
asyik-asyiknya menikmati istirahta ini, tiba-tiba mataku terbelalak melihat
secarik kertas yang tertempel di dinding kamarku, tertata rapi dengan kertas
origami warna-warni yang mencolok mata. Aku bangkit dan berdiri mendekati kertas yang berisi rangkaian huruf
demi huruf tersebut dan membacanya dengan lekat, ditata selucu dan seunik
mungkin agar memikat. Rasanya mata ini tak ingin berpaling dari tulisan
tersebut.
“Ya Allah betapa indahnya mimpi-mimpiku ini.” Ku pejamkan mataku
dan ku bayangkan aku berada disana, di mimpi-mimpi yang telah ku rancang dari
beberapa bulan yang lalu. Aku membayangkan jika saat ini aku sudah menjadi
salah satu mahasiswa di Universitas Negeri ternama, dan di jurusan yang memang
aku impikan. Ku bayangkan bahwa disana aku menjadi mahasiswa aktivis islam yang
cerdas dan solehah dengan pakaian yang sesuai syariat islam. Memiliki
teman-teman yang solehah yang selalu menuntunku untuk berubah dan mencintai-Nya.
Subhanallah, Mimpi-mimpi yang membuatku tersenyum kembali dan semangat lagi
untuk belajar.
“Keep fighting to UN and SNMPTN wen, Semangat. yeyeye” kukepalkan
tanganku kelangit seraya menyimpulkan senyuman terindahku.
***
Hari demi hari ku jalani, UN telah berlalu, dan aku sudah
sangat tidak sabar untuk bertarung di SNMPTN. Aku menemui ibundaku tercinta di
dapur yang baru selesai masak untuk menanyakan
tentang renacana masa depanku yang akan ku lalui.
“Mamaa,” ujarku manja. “Nanti
aku boleh coba universitas dimana aja ma? Kalo jauh-jauh boleh ga ma?” ujarku
membuka pembicaraan seraya duduk disamping mamaku.
“hmmmmm,” mamaku terdiam.
“Mama Kenapa?” Aku heran melihat tingkah mamaku yang kikuk dan
tidak seperti biasanya. “Mama jawab dong pertanyaan aku” ujarku dengan semangat
seraya menggenggam tangannya.
“Nak,” ia memulai membuka pembicaraannya.
“Iya Mama sayang, kenapa sih?” tanyaku penasran.
“untuk tahun ini kamu enggak usah kuliah dulu yaa nak!” ujar Mamaku.
“Hah? Lho kok?” Aku shock
mendengar kata-kata yang keluar dari bibir Mamaku. “Tapi Kenapa maa? Emang apa
salahku ma?” timpalku dengan ekpresi yang benar-benar kecewa.
“Iyaa, Mama sama Bapak nggak ada uang untuk mengkuliahkanmu, tunggu
kakak kamu tamat dulu yaa nak. Dia lagi butuh banyak biaya. Dan tahun ini dia
juga akan tamat kok.”
“Hikkksss.” Tak tertahankan buliran airmataku mengalir. Aku pergi
meninggalkan mamaku, lari masuk ke kamar, seraya mengunci pintu kamarku
tersebut.
“Kenapa sih? Kenapa dari
dulu orangtuaku serasa menganak tirikan aku? Kenapa kakak aku yang dianak
emaskan? Dari dulu selalu begitu. Sewaktu SMA, aku mau sekolah di sekolah
favorit tempat kakak aku sekolah dulu, tapi enggak dikasih dengan alasan yang
sama. Lalu kenapa kakakku bisa sekolah disitu? Padahal aku sangat
mengimpikannya. Ini semua nggak adil. dan yang membuatku terpukul, kenapa harus
aku yang dikorbankan? Kenapa bukan kakakku aja yang sekarang sedang kuliah
profesi, padahal? Kenapaaaa?” Batinku terisak.
.
***
“Allah itu sesuai prasangka hambanya, Allah akan memberikan rezeki
dari arah yang tiada disangka-disangka jika hambanya bertakwa. Allah tidak akan
mengubah nasib suatu kaum sebelum dia mengubah sendirinya. Dimana ada kemauan
disitu ada jalan” Aku menghibur diriku sendiri. Cita-cita yang membuncah
membuat memori otakku berputar dan mencari cara bagaimana mimpi-mimpiku itu dapat
tercapai. Aku ingin menyebarluaskan islam sampai ke manca negara. Aku ingin
menjadi pengembah dakwah keren yang dengan perantara lisan yang diberi Allah
ini, dan aku ingin mengubah dunia. Tapi, bagaimana jika aku tidak kuliah dan
tetap terkungkung di lingkungan seperti ini? Lingkungan yang tidak memfasilitasi
aku untuk berubah. Lingkungan yang jauh dari agama. Apalagi orangtuaku saja
tidak mendukung aku sepenuhnya untuk menjalankan syariat secara kaffah !
bagaimana bisa aku meraih mimpi-mimpiku jika aku tidak hijrah dan mencari jalan
Cahaya-Nya?
“Ya Allah, aku ingin hijrah dari sini ya Allah, aku gak sanggup
untuk tinggal di lingkungan seperti ini, Aku ga sanggup ya Allah. Aku bisa-bisa
akan terbawa arus karena aku tidak mempunyai teman-teman yang solehah disini,
yang akan menuntunku untuk menuju cahaya-Mu ya Allah. Aku sangat kesulitan
untuk mengkaji islam di kampung ini ya Allah. Aku sudah sangat mengimpikan jadi
mahasiswa dan jadi aktivis islam. aku ga mau nenyia-nyiakan hidupku. aku mau
sukses dunia akhirat ya Allah, dan itu akan sangat sulit terwujud jika aku
tidak kuliah dan tidak menemukan komunitas pengemban dakwah yang takkan ku
temukan di kampungku. hiks” aku terisak dan airmataku meleleh dengan derasnya.
“Bantu hamba ya Allah untuk mewujudkan mimpik-mimpiku.” Aku pun setiap hari
berdoa dan bermunajat kepada-Nya.
***
Subhanallah, pertolongan Allah itu datang, orangtuaku memiliki
rezeki. Dan aku diizinkan untuk mengikuti ujian SNMPTN. Dengan semangat 45, aku
pun berjuang dengan mengerahkan segala daya dan upayaku agar aku bisa lulus
SNMPTN. Dan aku bertekad bulat, jika aku lulus, hal yang pertama kali aku
lakukan adalah aku akan mencari teman-teman yang solehah yang bisa menolongku
untuk semakin mencintai-Nya, yang bisa menuntunku berubah dan memakai islam
secara kaffah.
***
Dan
Alhamdulillah, akhirnya saat ini aku sudah menduduki semester 5 di Universitas
Negeri dan di jurusan yang aku inginkan. Aku sangat bahagia karena aku telah
menemukan apa yang aku cari-cari selama ini,. Menyandang predikat Cerdas dan
solehah, bisa aku raih. Sekarang aku
telah bergabung ke dalam barisan dakwah untuk memperjuangkan syariat islam tanpa kenal lelah,
bersama teman-teman yang solehah dan luarbiasa yang selalu menuntunku untuk
semakin mencintai-Nya.. Dan Hijrah yang ku lakukan untuk meraih impian bisa
menjadi kenyataan. walau harus jauh dari orangtua dan kampung halaman.
No comments:
Post a Comment