welcome

Monday, 20 January 2014

Semangat Hijrah Meraih Impian ^_^


UN dan SNMPTN tinggal menghitung hari. Pinsil, buku catatan, buku paket dan segala jenis buku serta kumpulan soal-soal UN dan SNMPTN mendadak memikat hatiku dan selalu ku ajak setiap harinya untuk menemani hari-hariku.
“Hoaaaaaaaaaaaaaaaaaaamh.” Aku menguap “Maafin ya buku, aku lebih memilih bantal daripada engkau.” Rasa malaspun menghampiriku. Ku rebahkan tubuhku diantara lautan buku-buku yang terhampar luas di lantai kamarku. Selagi asyik-asyiknya menikmati istirahta ini, tiba-tiba mataku terbelalak melihat secarik kertas yang tertempel di dinding kamarku, tertata rapi dengan kertas origami warna-warni yang mencolok mata. Aku bangkit dan berdiri  mendekati kertas yang berisi rangkaian huruf demi huruf tersebut dan membacanya dengan lekat, ditata selucu dan seunik mungkin agar memikat. Rasanya mata ini tak ingin berpaling dari tulisan tersebut.
“Ya Allah betapa indahnya mimpi-mimpiku ini.” Ku pejamkan mataku dan ku bayangkan aku berada disana, di mimpi-mimpi yang telah ku rancang dari beberapa bulan yang lalu. Aku membayangkan jika saat ini aku sudah menjadi salah satu mahasiswa di Universitas Negeri ternama, dan di jurusan yang memang aku impikan. Ku bayangkan bahwa disana aku menjadi mahasiswa aktivis islam yang cerdas dan solehah dengan pakaian yang sesuai syariat islam. Memiliki teman-teman yang solehah yang selalu menuntunku untuk berubah dan mencintai-Nya. Subhanallah, Mimpi-mimpi yang membuatku tersenyum kembali dan semangat lagi untuk belajar.
“Keep fighting to UN and SNMPTN wen, Semangat. yeyeye” kukepalkan tanganku kelangit seraya menyimpulkan senyuman terindahku.
***
            Hari demi hari ku jalani, UN telah berlalu, dan aku sudah sangat tidak sabar untuk bertarung di SNMPTN. Aku menemui ibundaku tercinta di dapur yang baru selesai masak  untuk menanyakan tentang renacana masa depanku yang akan ku lalui.
 “Mamaa,” ujarku manja. “Nanti aku boleh coba universitas dimana aja ma? Kalo jauh-jauh boleh ga ma?” ujarku membuka pembicaraan seraya duduk disamping mamaku.
“hmmmmm,” mamaku terdiam.
“Mama Kenapa?” Aku heran melihat tingkah mamaku yang kikuk dan tidak seperti biasanya. “Mama jawab dong pertanyaan aku” ujarku dengan semangat seraya menggenggam tangannya.
“Nak,” ia memulai membuka pembicaraannya.
“Iya Mama sayang, kenapa sih?” tanyaku penasran.
“untuk tahun ini kamu enggak usah kuliah dulu yaa nak!” ujar Mamaku.
 “Hah? Lho kok?” Aku shock mendengar kata-kata yang keluar dari bibir Mamaku. “Tapi Kenapa maa? Emang apa salahku ma?” timpalku dengan ekpresi yang benar-benar kecewa.
“Iyaa, Mama sama Bapak nggak ada uang untuk mengkuliahkanmu, tunggu kakak kamu tamat dulu yaa nak. Dia lagi butuh banyak biaya. Dan tahun ini dia juga akan tamat kok.”
“Hikkksss.” Tak tertahankan buliran airmataku mengalir. Aku pergi meninggalkan mamaku, lari masuk ke kamar, seraya mengunci pintu kamarku tersebut.
 “Kenapa sih? Kenapa dari dulu orangtuaku serasa menganak tirikan aku? Kenapa kakak aku yang dianak emaskan? Dari dulu selalu begitu. Sewaktu SMA, aku mau sekolah di sekolah favorit tempat kakak aku sekolah dulu, tapi enggak dikasih dengan alasan yang sama. Lalu kenapa kakakku bisa sekolah disitu? Padahal aku sangat mengimpikannya. Ini semua nggak adil. dan yang membuatku terpukul, kenapa harus aku yang dikorbankan? Kenapa bukan kakakku aja yang sekarang sedang kuliah profesi, padahal? Kenapaaaa?” Batinku terisak.
.
***

“Allah itu sesuai prasangka hambanya, Allah akan memberikan rezeki dari arah yang tiada disangka-disangka jika hambanya bertakwa. Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sebelum dia mengubah sendirinya. Dimana ada kemauan disitu ada jalan” Aku menghibur diriku sendiri. Cita-cita yang membuncah membuat memori otakku berputar dan mencari cara bagaimana mimpi-mimpiku itu dapat tercapai. Aku ingin menyebarluaskan islam sampai ke manca negara. Aku ingin menjadi pengembah dakwah keren yang dengan perantara lisan yang diberi Allah ini, dan aku ingin mengubah dunia. Tapi, bagaimana jika aku tidak kuliah dan tetap terkungkung di lingkungan seperti ini? Lingkungan yang tidak memfasilitasi aku untuk berubah. Lingkungan yang jauh dari agama. Apalagi orangtuaku saja tidak mendukung aku sepenuhnya untuk menjalankan syariat secara kaffah ! bagaimana bisa aku meraih mimpi-mimpiku jika aku tidak hijrah dan mencari jalan Cahaya-Nya?

“Ya Allah, aku ingin hijrah dari sini ya Allah, aku gak sanggup untuk tinggal di lingkungan seperti ini, Aku ga sanggup ya Allah. Aku bisa-bisa akan terbawa arus karena aku tidak mempunyai teman-teman yang solehah disini, yang akan menuntunku untuk menuju cahaya-Mu ya Allah. Aku sangat kesulitan untuk mengkaji islam di kampung ini ya Allah. Aku sudah sangat mengimpikan jadi mahasiswa dan jadi aktivis islam. aku ga mau nenyia-nyiakan hidupku. aku mau sukses dunia akhirat ya Allah, dan itu akan sangat sulit terwujud jika aku tidak kuliah dan tidak menemukan komunitas pengemban dakwah yang takkan ku temukan di kampungku. hiks” aku terisak dan airmataku meleleh dengan derasnya. “Bantu hamba ya Allah untuk mewujudkan mimpik-mimpiku.” Aku pun setiap hari berdoa dan bermunajat kepada-Nya.

***
Subhanallah, pertolongan Allah itu datang, orangtuaku memiliki rezeki. Dan aku diizinkan untuk mengikuti ujian SNMPTN. Dengan semangat 45, aku pun berjuang dengan mengerahkan segala daya dan upayaku agar aku bisa lulus SNMPTN. Dan aku bertekad bulat, jika aku lulus, hal yang pertama kali aku lakukan adalah aku akan mencari teman-teman yang solehah yang bisa menolongku untuk semakin mencintai-Nya, yang bisa menuntunku berubah dan memakai islam secara kaffah.
***
Dan Alhamdulillah, akhirnya saat ini aku sudah menduduki semester 5 di Universitas Negeri dan di jurusan yang aku inginkan. Aku sangat bahagia karena aku telah menemukan apa yang aku cari-cari selama ini,. Menyandang predikat Cerdas dan solehah, bisa aku raih.  Sekarang aku telah bergabung ke dalam barisan dakwah untuk  memperjuangkan syariat islam tanpa kenal lelah, bersama teman-teman yang solehah dan luarbiasa yang selalu menuntunku untuk semakin mencintai-Nya.. Dan Hijrah yang ku lakukan untuk meraih impian bisa menjadi kenyataan. walau harus jauh dari orangtua dan kampung halaman.

No comments:

Post a Comment