welcome

Sunday, 17 February 2013

Cerpen. Ketika cinta memilih

Semua teman-temanku yang tau berita itu kecewa. Bukan karena aku menyakiti mereka . bukan juga ingin meninggalkan mereka. Tapi hanya karna aku memutuskan untuk tidak berhubungan lagi dengan Fachry. “Yaaah~ kok gtu sih nda?” Pokoknya aku ga rela. Titik!” “Ih, dia kurang apalagi coba? Dimana lagi dapetin cowok kayak gitu?” Begitulah ekspresi sahabat-sahabatku tercinta. Fachry adalah sosok lelaki yang sempurna, kebagusan fisiknya seimbang dengan kebaikan hatinya. Intelektualitasnya cemerlang namun tetap bersahaja. Lelucon yang dia ciptakan, bisa menghapus kesedihanku sekejap saja. Kemudian kejujurannya dan kesederhanaannya membuatku nyaman untuk berada didekatnya. Sampai tiba suatu ketika aku dan fachry merasakan getaran yang tidak biasa, entah dari mana datangnya dan entah kapan tepatnya. Kebiasaan melakukan komunikasi membuat kami terisi oleh satu sama lain. Aku juga belum menyadari apa yang terjadi pada diriku. Aku acuh!
Semakin hari, tanpa disadari, komunikasi yang dilakukan semakin sering membawa kami pada penguatan perasaan. Kekaguman yang sudah ada sejak dulu semakin kuat, pengetahuan tentang kondisi kehidupan satu sama lain pun semakin mendalam. Maka terhembuslah sebuah perasaan bernama cinta. lahan nikmat bagi syaitan menggoda antara dua manusia. Hingga akhirnya kamipun tak dapat lagi membendung rasa. Kami mengungkapkannya. Aku pun tak kuasa untuk mengelak saat ia mengajakku mewarnai hari seperti pelangi. Tapi kemudian timbul tanda tanya besar dalam diriku saat aku terhenyak dengan statusku sebagai muslim. “Allah, apakah yang aku lakukan ini dosa? Aku sangat mencintainya. Jarak yang cukup jauh tidak akan membuat kami berbuat sesuatu yang engkau larang. Kami hanya saling mendukung dan mengingatkan kebaikan satu sama lain. Apakah ini salah?” batinku. Aku merenung dan bertekad untuk mencari secercah cahaya. Ternyata tak mudah. Hidup di sistem sekuler ini yang mencampakkan agama untuk ambil bagian dalam kehidupan. Cahaya itu sangat sulit terjamah. Susah menentukan jalan mana sebenarnya yang aku cari. Mereka yang aku tanya, tak menghantarkanku kepada kebenaran yang hakiki. Walau mereka terkenal dengan seorang yang ahli. Ckckck. Ternyata mereka juga sudah terwarnai dengan sistem yang menjunjung kebebasan ini. Permisivisme. Semuanya serba boleh asal tidak mengganggu atau merugikan orang lain. Aku bingung. Aku terombang ambing ketika melawan arus ini. Hingga akhirnya Allah memberikan sesosok wanita solehah yang akan menjadi guide-ku. Ia yang mengulurkan tangannya untuk menarikku dari jurang kemaksiatan dan menuntunku untuk menelusuri jalan yang selama ini aku cari. Baruku sadar dan bisa merenungi konsep islam yang gamblang tentang Ijtima’i. “La taqrabuzzina”1. Dan terjadilah keputusan itu. Ku bulatkan tekadku. Ku rangkai kata sedemikian rupa untuk mengakhiri semuanya. Assalamu’alaikum. Maaf sebelumnya. Fachry, Setelah mengkaji islam lebih dalam dibeberapa hari ini Alhamdulillah aku meyakini bahwa tidak diperbolehkan perempuan dengan laki-laki yang bukan mahrom berkomunikasi tanpa ada alasan yang syar’i2. Dan sekarang aku telah memutuskan untuk tidak berkomunikasi yang tidak syar’i dengan laki-laki yang bukan mahrom lagi, termasuk kamu. Aku harap kamu bisa mengerti dengan keputusan ini. Ini semua bukan Karena apa-apa, Ini semua karena wujud cintaku kepada Allah. Kalau kamu benar-benar sayang padaku, maka penuhilah permintaanku ini bahwa kita tidak akan berkomunikasi lagi apabila tidak ada kepentingan syar’i. dukung aku dengan tidak mencoba berkomunikasi denganku lagi. Cuma itu yang aku pinta. Setelah sms ini aku tidak akan sms-sms kamu lagi jika tidak dengan kepentingan yang syar’i. Jika Allah mengehendaki kita akan berjodoh . bila tidak berarti itu yang terbaik buat kita. Aku tau setelah sms ini akan banyak pertanyaan dibenakmu. Kamu ga usah tanya sama aku. Kamu tanyalah sama orang yang tepat dan kamu juga bisa mengkaji islam bersamanya. Ini aku kasih nomornya : 088xxxxxxx. Dia ada di kampusmu. Aku dapat nomor ini dari seseorang yang nggak penting itu siapa. Diakhir, semoga kamu juga memasuki islam kaffah untuk mendapat ridho Allah. Wassalamu’alaikum” Sebuah sms ditengah heningnya malam terkirim. Buliran airmataku tak terasa menetes membasahi pipi. Hanya detak jarum jam saja yang menemaniku saat itu. “Kamu harus kuat nda, ini semua untuk Allah.” Aku menguatkan diriku sendiri seraya menyeka airmataku. Saat itu akupun menghapus fotonya, nomornya, smsnya, bahkan memblockir fesbuknya dan segala hal yang bisa membuatku mengingatnya ku buang jauh-jauh. Karena aku tidak ingin rasa ini bangkit lagi kalo ada sesuatu yang membuat aku mengingatnya. Keesokan harinya. Jelas. Dia mengirimkan balasan. Ia masih kurang menerima keputusanku. Ia berusaha membujukku untuk membalas smsnya. “Dinda. Plisss. tolong balas sms aku nda. Kumohon!”. “Bukan aku ga mau balas Fachry, tapi Aku ingin menjaga kesucian hatiku dan hatimu. Dan aku hanya ingin menyempurnakan ketaatanku kepada-Nya. Apakah aku salah?” Batinku terisak L “Nda tolong! jangan mutusin talisilaturrahmi kita seperti ini. Aku sayang banget sama kamu!” “Fachry. sebenarnya silaturrahmi itu adalah hubungan kekerabatan. Dan kamu bukan kerabat aku. Kamu bukan siapa-siapa aku. Dan kita tidak ada hubungan darah! Jadi tidak masalah jika kita tidak berhubungan lagi. Justru yang jadi masalah jika kita tetap berkomunikasi! hiks” aku berbicara pada diriku sendiri seraya melihat pesan di layar handphoneku. Berkali-kali Ia mencoba menghubungiku. Tapi ku kuatkan hati ini untuk tetap mengabaikannya. Dan mungkin akhirnya dia menyerah! “Jaga diri baik-baik ya Nda. Sekiranya jika kita berjodoh, Alhamdulillah. jika tidak, maka tidak ada yang tersakiti. Aku akan mendukung keputusanmu sepenuhnya. Aku janji tidak akan menghubungimu lagi. InsyaAllah, nanti aku akan menanyakannya kepada orang yang lebih mengerti. Wassalamu’alaikum”. Tanpa terasa airmata ini menetes kembali. Aku terisak. Hiks ! “Aku itu cinta banget sama kamu fachry. Tapi aku ga mau buat Allah cemburu. Aku ga mau buat Allah marah, buat Allah murka dengan cinta yang belum semestinya ini. Tapi, aku harus merelakanmu. Aku harus kuat! Aku harus tegar! sesuatu yang aku korbankan ini, belum ada apa-apanya dibandingkan dengan para sahabat Rasulullah dan saudara kita yang saat ini dibantai habis-habisan oleh musuh-musuh islam. Yang rela mengorbankan segalanya untuk Allah. Waktu, tenaga, pikiran, harta, bahkan nyawa sekalipun mereka korbankan hanya untuk-Nya. Ini Allah masih memintaku untuk mengorbankan perasaan. Dan aku pasti bisa! aku belum diminta berkorban nyawa seperti mereka”. Aku terus menguatkan hatiku sendiri yang benar-benar sangat lemah. Dan sangat rapuh. Selanjutnya adalah hari-hari penuh elegi. Walau dua tahun mengenalnya bukanlah waktu yang gampang untuk dilupakan. Sungguh Menyiksa. Ternyata sulit memudarkan perasaanku terhadapnya. Tapi, demi-Nya, ku tata hatiku untuk ikhlas menghadapinya. Setelahku tertatih, ku rangkai kembali cita-citaku akan kesempurnaan iman. Membunuh asa, menyibukkan diri dengan aktifitas surgawi. Aku sangat takjub dengan dunia yang aku lalui sekarang. Buliran airmata membasahi pipiku. Tak dapat ku sembunyikan pendar bahagia itu. Aku menapak kehidupan baru dengan teman-teman yang selalu menuntunku untuk semakin mencintai-Nya. dan memperjuangkan syariat-Nya dalam bingkai Khilafah Islamiyah. Dan ku pastikan Sekarang, Airmata yang membasahi pipi ini bukan untuk menangisinya lagi. Tapi untuk saudaraku yang tertindas kaum kafir laknatullah di negeri sana :'( Waktuku tidak akan terbuang untuk memikirkannya lagi. Tapi untuk memikirkan saudara-saudaraku seiman yang sangat membutuhkan uluran tangan kita. Ya Allah istiqomahkanlah! ^^ 1 = “Dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji.dan suatu jalan yang buruk”. (QS. Al-Isra’ : 32) “Telah ditulis bagi setiap bani Adam bagiannya dari zina, pasti dia akan melakukannya, kedua mata zinanya adalah memandang, kedua telinga zinanya adalah mendengar, lidah (lisan) zinanya adalah berbicara, tangan zinanya adalah memegang, kaki zinanya adalah melangkah, sementara qalbu berkeinginan dan berangan-angan, maka kemaluanlah yang membenarkan (merealisasikan) hal itu atau mendustakannya”. [HR. Al-Bukhoriy (5889) dari Ibnu Abbas, dan Muslim (2657) dari Abu Hurairah] Larangan memandang yang bukan mahrom “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya (dari hal yang haram); yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka.Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat”.Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya (dari yang haram)”. (QS. An-Nur: 30-31). Larangan saling menggombal dan bersuara lembut / manja “Maka janganlah kamu tunduk (bersuara lembut) dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik”.(QS. Al-Ahzab:32). Larangan berduaan “Jangan sekali-sekali salah seorang di antara kalian (kaum pria) berduaan dengan seorang wanita, karena setan adalah pihak ketiganya”.[HR. At-Tirmidziy (2165), dan Ahmad (114). Hadits ini di-shohih-kan oleh Al-Albaniy dalam Al-Irwa’ (6/215)] Larangan pegangan atau sentuhan “Andaikan kepala seseorang di cerca dengan jarum besi, itu lebih baik (ringan) baginya dibandingkan menyentuh seorang wanita yang tak halal baginya”. [HR. Ar-Ruyaniy dalam Al-Musnad (227/2), dan Ath-Thobroniy dalam Al-Kabir (486, & 487)] 2 = Batas-batas hukum syariah dan dalam batas aktivitas yang dibolehkan atas laki-laki dan perempuan berinteraksi Ini misalnya aktivitas jual-beli, akad tenaga kerja (ijârah), belajar, kedokteran,paramedis, pertanian, industri, dan sebagainya. Sebab, dalil tentang kebolehan atau keharusan aktivitas itu berarti mencakup kebolehan interaksi karena adanya aktivitas-aktivitas itu. Namun, jika pelaksanaan berbagai aktvitas di atas tidak menuntut adanya interaksi di antara keduanya seperti berjalan bersama-sama di jalan-jalan umum; pergi bersama-sama ke masjid, ke pasar, mengunjungi sanak-famili, atau bertamasya; dan yang sejenisnya, tidak boleh seorang wanita melakukan interaksi dengan seorang pria. Sebab, dalil-dalil tentang keharusan pemisahan kaum pria dari kaum wanita bersifat umum. Tidak ada satu dalil yang membolehkan adanya interaksi di antara pria dan wanita dalam perkara-perkara di atas, dan interaksi itu pun tidak dituntut oleh perkara yang dibolehkan oleh syariah untuk dilakukan seorang wanita. Karena itu, adanya interaksi antara pria dan wanita dalam perkara-perkara tersebut di atas dipandang sebagai perbuatan dosa, meskipun dilakukan dalam kehidupan umum. Atas dasar ini, pemisahan kaum pria dari kaum wanita dalam kehidupan Islam adalah wajib. Pemisahan keduanya dalam kehidupan khusus adalah pemisahan yang total, kecuali dalam perkara-perkara yang dibolehkan oleh syariah. (“Sistem Pergaulan dalam Islam” à Syaikh Taqiyuddin An-nabhani hlm: 118) HANYA SYARIAT ISLAM DAN KHILAFAH ISLAMIYAH YANG AKAN MENGHAPUS SELURUH BUDAYA JAHILIYAH KUNO YANG DIBUNGKUS MODERN OLEH KAPITALISME!! Medan, 11 February 2013. 3.08 pm

No comments:

Post a Comment